portofolio
Tampilkan postingan dengan label portofolio. Tampilkan semua postingan

22 Januari 2020

#Video - Perjuangan Bayi Kembar Siam Ardi dan Ardan



Cerita perjalanan Ardi dan Ardan, bayi kembar siam yang lahir pada 28 September 2018, hingga berhasil dipisahkan pada 16 November 2019.

Saya yang melakukan wawancara dan pembuatan skrip. Pingkan Rachel yang melakukan pengambilan gambar dan editing.

Saya mengerjakan video ini untuk Kitabisa.

02 Oktober 2014

#Artikel - Bisnis Plesetan (nan Slengean) a la Kamengski



Dengan plesetan visual, Kamengski membuat pemuda urban gemar dengan Firdaus Oil, Meggy Z dan Nike Ardila

Kita tentu sepakat, bahwa di kalangan pemuda kelas menengah macam kita-kita ini, produk bermerk Firdaus Oil pasti ditampik. Kita menyadari keberadaannya sebagai minyak penumbuh bulu, tapi sangat jarang sekali menggunakannya. Begitu juga Meggy Z. Agaknya, jarang ada pemuda kekinian yang peduli dengan pedangdut Anggur Merah tersebut. Sebenarnya, Firdaus Oil dan Meggy Z tak beda dengan Pomade dan Elvis Presley. Semuanya bagian dari budaya popular. Hanya saja, mereka ngepop di dua kelas masyarakat yang berbeda. 

21 September 2014

#Artikel - Self-Published Your Photobook and Be Happy



Di era kemajuan teknologi, industri percetakan dan sosial media ini, rasanya tiap pehobi fotografi perlu menjadikan penerbitan buku fotonya sendiri sebagai pencapaian. Selain akan membahagiakan diri sendiri, ini penting untuk memperkaya referensi fotografi.


Kalau kita berkunjung ke toko buku dan melihat rak koleksi buku-buku fotografi, pasti yang banyak kita temui adalah buku-buku panduan teknik fotografi. Mulai dari panduan fotografi dasar, teknik pencahayaan, hingga panduan menguasai digital imaging dalam waktu singkat. Sementara buku fotografi yang berisi kumpulan karya foto dengan tema tertentu dari seorang fotografer sedikit sekali mengisi rak. Kalau pun ada pasti harganya mengejutkan. Kebanyakan harganya di atas Rp 300 ribu. Niat untuk mengoleksi buku foto, memperkaya referensi foto, dan mengapresiasi karya fotografer pun mau tak mau harus ditunda. 

21 Maret 2014

#Artikel - Mata Eropa si Fotografer Pribumi Pertama


Tak butuh waktu lama untuk fotografi datang ke Indonesia. Tak lebih dari dua tahun setelah dipatenkan, Daguerretype—kamera pertama yang diciptakan oleh seorang Perancis, Louis Daguerre—datang ke Indonesia. Seorang Belanda bernama Jurrian Munich-lah yang membawa kamera pertama kali ke tanah Jawa. Saat itu adalah tahun 1840 ketika Munich ditugaskan untuk melakukan pemotretan flora dan peninggalan bersejarah di Hindia Belanda.

Namun, baru setelah dua puluh tahun sejak kedatangannya, kamera baru benar-benar dioperasikan oleh pribumi, yaitu oleh Kassian Cephas, nama yang pastinya sudah kita banyak kenal sebagai fotografer pribumi pertama. Kassian berusia 20an tahun ketika itu. Sebagai salah satu pekerja di kesultanan ia berkesempatan untuk berlatih fotografi kepada jurufoto pemerintah Hindia Belanda yang ditugaskan di kesultanan Yogyakarta, Simon Willem Camerik.

17 November 2012

#Advertorial - Indosat: Saatnya Lupakan BBM Pending

HAI magazine edisi 46, November 2012 


Saatnya Lupakan BBM Pending
Lewat paket Blackberry Premium nggak ada lagi cerita BBM pending atau browsing lemot. Semua lancar!

Setuju dong kalau koneksi internet pada ponsel Blackberry kita itu adalah yang penting? Apalagi sekarang ini, seluruh informasi dan komunikasi didapat dari media sosial yang butuh koneksi internet. Sudah pasti, koneksi yang lemot bisa jadi bencana. 

Coba bayangkan deh, tim sepak bola kesayanganmu sedang bermain, sementara kamu jauh dari televisi, satu-satunya akses untuk update skor pertandingan adalah Twitter. Nah, nggak enak kan rasanya kalau tiba-tiba koneksi Blackberry kamu lemah, kamu jadi nggak bisa mengikuti pertandingan deh. Itu masih mending, kalau kita sedang janjian sama pacar lalu pesan BBM kita pending, pasti bisa membawa masalah besar, tuh. Sang pacar bisa ngambek seharian. 

21 Oktober 2012

#Artikel - Film Director: The God Of Movie



Hai Magazine edisi 44, 2012


Memengaruhi perasaan dan pemikiran penonton, menuangkan idealisme dan mimpi, serta menegakkan passion. Nggak heran kalau sutradara disebut sebagai dewanya film.

Siapa yang sudah nonton Perahu Kertas 2? Ngaku deh, pasti ada dari kalian yang perasaannya berubah drastis setelah film usai. Sebelum masuk studio kita bisa ketawa-ketiwi sama pacar,  eh saat layar bioskop padam, kita malah termenung di kursi, galau karena merasa cerita Kugy dan Keenan yang ada di film begitu menyentuh. Atau malah ada yang merasa konflik pada film mirip dengan kejadian yang pernah kita alami. 

Nah, perubahan emosi dan pemikiran itulah efek dari kepiawaan seorang sutradara meracik film. Karena, dari mulai alur cerita, angle pengambilan gambar, akting para pemeran, urutan adegan, sampai penyatuan musik latar yang sesuai dengan mood menjadi tanggung jawab seorang sutradara. 
“Seorang yang bertanggung jawab di bidang kreatif film. Memvisualkan teks-teks skenario menjadi gambar. Pokoknya, sutradara bertanggung jawab penuh terhadap gambar. Sutradara harus bisa bercerita banyak dari rangkaian plot,” begitulah definisi sutradara dari seorang Hanung Bramantyo, Sutradara dari dua film Perahu Kertas (2012). 

28 April 2012

#Artikel - Metal Gothic: Kegelapan yang Elegan

(dimuat di Hai edisi 17, edisi khusus metal, April 2012)


Pertama kali mendengar kata gothic pasti yang terbayang di benak kita adalah situasi yang gelap, dan menyeramkan. Nah ketika kata itu disandingkan dengan metal, hasilnya adalah musik keras, berdistorsi dengan nuansa kelam dan muram. 

“Ya, gothic itu kan berasal dari kata goth yang kurang lebih artinya kepercayaan tentang kegelapan,” jelas Bowo, Gitaris band Dreamer, salah satu punggawa musik metal gothic di Indonesia. 

Nah, menurut Yani, sang frontman sekaligus gitaris Dreamer, suasana kelam dan gelap itu dibangun dengan musik-musik yang lebih mengedepankan simfoni, “Metal gothic bisa dengan mudah dicirikan dari musiknya yang sering menggunakan gitar melodi, piano atau kibor dengan nada-nada simfoni yang panjang serta suara vokal cewek yang soprano,”. Itulah mengapa dibalik kegelapannya, musik metal gothic ini punya citra yang elegan. 

25 April 2012

Pedagang Pecel Lele pun Desainer.

ditulis untuk Nirmana Award, dimuat di Malesbanget.com April 2012, http://mlsbgt.de/JAwLNF
Gambar ayam jago dengan warna keemasan, lele yang sedang meliukkan tubuhnya, dan seekor bebek. Lalu disekelilingnya terdapat tulisan-tulisan penjelas dari gambar “Pecel Lele, Ayam Goreng, Nasik Uduk dan Tahu Tempe,” Tak jarang juga, nama penjualnya dibubuhi lebih besar sebagai penanda. Jenis hurufnya selalu besar dan warnanya eksentrik, biasanya kemerahan.

Coba visualisasikan kalimat tersebut dalam benak kalian, dan sebut hal apa yang muncul. Pasti gambaran warung tenda dipinggir jalan dengan kursi plastik dan suara gemuruh minyak yang tengah mengepung lele dan ayam yang akan muncul. Ya, itu adalah warung tenda Pecel Lele. 

Entah siapa yang memulai, tapi tata spanduk semua warung tenda pecel lele di seluruh penjuru Indonesia selalu begitu bentuknya. Kalau kita amati, spanduk sederhana itu sudah memuat unsur-unsur dalam desain grafis: tipografi dalam bentuk dan warna huruf-huruf; ilustrasi untuk menggambarkan apa yang dijualnya dan layout alias tata letak unsur-unsur tersebut.  Walau terlihat terlalu ramai dengan penggunaan banyaknya jenis huruf tapi desain spanduk seperti ini sudah tertanam di benak masyarakat sebagai bagian dari brand pecel lele. 

Ini adalah bukti bahwa desain grafis itu tidak melulu dilakukan oleh para pekerja di perusahaan kreatif saja, tetapi juga oleh semua orang termasuk kita. Untuk bisa menemukan karya-karya desain pun kita tidak mesti mencarinya di situs-situs dan majalah yang seni dan desain. Cukup lihat sekeliling, kita akan dengan mudah menemukannya. 

16 April 2012

Oase itu Bernama Prestasi Desainer Indonesia


(ditulis untuk Nirmana Award, April 2012)

Jika kita menyaksikan berita di media massa, rasanya tak henti-hentinya kabar miring tentang negeri ini disiarkan. Entah itu aksi premanisme, perkara korupsi yang tidak berujung, serta kejanggalan-kejanggalan lain yang terjadi pada pemerintah. Tak ayal kalau anggapan negatif tentang negara ini makin pekat dan laten, tidak hanya di mata bangsa lain tetapi juga di mata rakyatnya sendiri. “Ah Indonesia payah, kapan mau majunya,” kira-kira begitulah umpatan yang biasa terdengar

Tapi tunggu dulu, tidak adil rasanya kalau buru-buru men-judge bahwa Indonesia itu payah dengan hanya melihat dari berita-berita negatif yang biasa diumbar media saja. Sayang rasanya jika optimisme kita luntur hanya karena pandangan bencana hasil pantauan sebelah mata saja. Kita  perlu membuka mata untuk melihat Indonesia dari sudut pandang lain. 

Daripada sibuk mencaci pemerintah, lebih baik kita mencari lalu mendukung serta menyemangati orang-orang yang memiliki passion besar di bidangnya dan giat berkarya membawa nama bangsa. Pasalnya, kini banyak pelaku desain asal Indonesia yang diam-diam mengukir prestasi di tingkat internasional. Siap-siap lah untuk terpukau dengan karya-karya berkelas 

05 April 2012

Akademisi Desain untuk Semua


(ditulis untuk Nirmana Award, April 2012)

Jika desain itu dituntut untuk bisa memberikan solusi dan menghadirkan estetika di segala bidang, maka begitu jugalah para akademisinya, bukan hanya berorientasi pada industri semata. 

Satu hingga dua dekade lalu, mengeyam pendidikan desain adalah hal yang tabu. Tak jarang orangtua yang ragu tiap kali ada anaknya yang mengajukan desain sebagai jurusan tempat ia melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Ada yang bilang masa depannya tidak jelas, ada yang mengira perkuliahannya yang lebih mengedepankan praktik daripada teori membuat anaknya turun derajat, tak jarang juga yang khawatir kalau anaknya jadi memiliki pemikiran yang nyeleneh selayaknya seniman.

Tapi sekarang keadaan pun berbalik. Jika pada dekade lalu Indonesia hanya memiliki sekitar lima perguruan tinggi yang menawarkan pendidikan desain. Kini jumlahnya pun berkembang drastis, pendidikan desain seolah menjadi program studi yang wajib dihadirkan seperti halnya Ekonomi, Hukum, Kedokteran atau pun Ilmu Komunikasi. 

15 Maret 2012

Advertorial: XL Speed Dating

Hai magazine edisi 13 2012

Temukan Klik-Mu Dengan Satu Kali KL1K

Kalian yang senang menjalin pertemenan pasti nyesel nggak ikutan acara XL KL1K Speed Dating. Pasalnya, banyak teman kita yang dapet kenalan atau bahkan gebetan baru sepulang dari acara ini. Gimana nggak, pada ajang yang digelar di Y&Y Restaurant, Grand Indonesia, Minggu (26/02), ini diundang 50 cowok untuk dipertemukan sama 50 cewek cantik dan manis yang asik untuk diajak kenalan.  

Gelaran ini memang didekasikan XL kepada kita semua untuk menjalin pertemanan seluas-luanya. Apalagi, tepat pada 14 Februari kemarin XL merilis produk XL KL1K, kartu perdana yang kian memudahkan kita untuk berkomunikasi di social media. Pokoknya, hanya dengan 1 kali klik kita bisa update status ke banyak social media sekaligus.  

11 Desember 2011

Parkour: Seni Gerak Yang Kaya Nilai


Far magazine edisi 16, Desember 2011

Berawal dari ikut ayahnya yang seorang pemadam kebakaran latihan melewati halang rintang, David Belle kemudian mengaplikasikan teknik-teknik tersebut di lingkungan sehari-hari di Prancis sana. Dari situ lah, Parkour sebagai seni berpindah tempat yang mengutamakan efisiensi dan efektifitas berkembang. Hingga kini, disiplin ini sudah ditularkan nyaris ke semua negara, termasuk di Indonesia. 
Parkour mulai dikenal Indonesia mulai masuk di tahun 2007. Di tahun pertamanya Malang, Bandung, Yogya, Surabaya dan Jakarta menjadi lima kota pertama yang mulai menggeluti kegiatan Parkour ini. Melalui obrol-obrol lewat forum di dunia maya akhirnya mereka bersatu membentuk Parkour Indonesia. Dari situ lah 17 Juli 2007 pun dimantapkan sebagai hari jadi Parkour Indonesia. Kini, nyaris disetiap kota-kota besar di Indonesia memiliki organisasi parkournya.   

Di Jakarta sendiri, komunitas Parkour-nya dimulai oleh segelintir orang saja. Di antaranya  adalah Fadli dan Daniel. Dari segelintir orang tersebut, kini mereka sudah menarik peminat lebih banyak. Menurut pendataan yang dilakukan pada Mei kemarin, ada sekitar 60 anggota tetap yang tergabung. Kalau dihitung jumlah orang ikut berlatih, Daniel menyatakan jumlahnya bisa lebih dari seribu orang. Menariknya lagi, para anggota ini tidak dibatasi umur dan jenis kelaminnya. Bahkan anak kelas 1 SD pun pernah gabung latihan. 

#Artikel - Ironi Kondisi Pangan di Tanah Surga.

Far Magazine edisi 16, Desember 2011


Di tahun 70-an Koes Plus menciptakan lagu Kolam Susu. Sebuah lagu manis yang bercerita tentang kemakmuran Tanah Air Indonesia. “Orang bilang tanah kita tanah Surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman,” begitulah salah satu bait liriknya. Kini, 30 tahun setelahnya, saya mendengarkan lagu itu. Masih manis terdengar memang, namun, jika bait-bait liriknya  saya hubungkan dengan situasi sekarang kok seperti ada yang mengganjal. Sebutan sebagai negara agraris sepertinya belum lepas dari Indonesia, tapi mengapa isu-isu tentang kelaparan, kekurangan gizi dan kemiskin selalu ramai menjadi berita?

Ketika saya menuliskan ini, belum genap sebulan kita menyudahi bulan Ramadhan. Tak ayal jika nuansa serta memorinya masih lengket hinggap di kesaharian kita. Isu kuliner seolah menjadi selebritis yang kerap dibicarakandi bulan yang katanya penuh berkah itu. Dari mulai makanan sahur, kolak untuk buka puasa, sirup rasa buah, kue lebaran, opor ayam, hingga beras untuk zakat kerap bulak-balik dalam pikiran. Sejumlah ritual makan bersama pun tidak pernah luput mewarnai gaya hidup kita masyarakat perkotaan. Makanan menjadi medium untuk kita berkumpul mengatasnamakan silaturahmi. Buka puasa bersama di restoran mewah, acara sahur on the road, hingga open house  saat lebaran. 

05 Oktober 2011

#Artikel - Kereta Api Indonesia: Melaju (Pelan) Melintasi Zaman

Far magazine edisi 15, Oktober 2011


Alat Transportasi sepanjang masa. Sepertinya istilah itu cocok diberikan kepada kereta api. Bagaimana tidak, kereta api bukan saja memobilasi manusia dan barang, tetapi juga membawa peradabadan bangsa. Begitu banyak sejarah dan kenangan yang tersimpan di setiap lajunya. Awalnya, kereta api menjadi alat transportasi yang utama masyarakat Indonesia, namun kini, lajunya pelan. Dibanding transportasi darat lainnya, kereta api dianaktirikan. 

Dari penjajah untuk penjajah.

Penemuan kereta api terjadi di awal tahun 1815, di Inggris. Penemuan mesin uap oleh James Watt lah yang mendasari terciptanya kereta api ini. 30 tahun setelah itu, barulah kereta api masuk ke Indonesia. Pembangunan kereta api di Indonesia adalah cikal bakal pemerintah Hindia Belanda.   Adalah Kolonel Jhr. Van Der Wijk, orang pertama yang mengusulkan gagasan ini di tahun 15 Agustus 1840. Tentu saja, motif awalnya adalah untuk kepentingan penjajahan. Saat itu Belanda menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel), sehingga hasil bumi semakin meningkat.  Kereta akan menjadi solusi bagi Belanda untuk mengangkut hasil bumi tersebut ke pelabuhan untuk kemudian di ekspor ke Eropa. Selain itu, kereta api membawa keuntungan di bidang pertahanan. 

27 Juli 2011

Ketika Penderitaan Menjadi Objek Wisata Pehobi Fotografi


Seorang ibu dan anak yang masih balita sedang terduduk di trotoar dengan pakaian yang lusuh tanpa alas kaki. Botol susu dan sebuah tas ada di sekitarnya.  Si anak terlihat sedang asik dengan benda yang dipegangnya, sepertinya sebuah plastik. Ia maju ke tepi trotoar menjauh dari jangkauan ibunya. Sementara sang Ibu mencoba meraihnya. Dalam foto yang berlatar waktu malam ini trotoar ditempati di kanan, mengisi setengah komposisi. Di luar trotoar adalah jalan raya. Terlihat beberapa pasang kaki wanita berjalan di jalan. Juga seorang pengendara motor yang sedang menepi. Mereka berpakaian rapih. Kontras dengan keadaan si Ibu dan anak yang menyedihkan.

Kira-kira begitulah keadaan perkotaan yang dibingkai oleh Prasetyo Utomo dalam fotonya yang diberi judul “Sabar ya nak, sebentar lagi kita dapet duit kok..”.  Sebuah representasi kemiskinan di perkotaan. Foto ini saya temukan di halaman depan situs Fotografer.net, sebuah forum fotografi  yang terbesar di Asia Tenggara. Terpampang di kolom Foto Pilihan Editor hari itu, 27 Juni 2011. Melihat foto ini, saya jadi bertanya-tanya. Mengapa banyak sekali bertebaran foto-foto yang menampilkan kemiskinan, keterpinggiran serta penderitaan manusia? Apakah benar foto dapat membantu mereka yang dipotret? Apakah benar kita bersimpati dengannya? Atau malah sekedar menjadikannya selayaknya objek wisata yang menarik untuk dibagi.

Hobi fotografi ala Fotografer.net

Perkembangan fotografi di Indonesia sangatlah dinamis. Fotografi bukan lagi milik para professional saja. Animo masyarakat meningkat seiring perusahaan kamera besar dunia berlomba-lomba menciptakan inovasi untuk menjadikan kamera bisa digunakan siapa pun dengan cara yang menyenangkan. Alhasil, hobi fotografi pun mulai menjamur di mana-mana. Beriringan dengan itu, komunitas-komunitas fotografi online pun berkembang.

Salah satu komunitas yang cukup fenomenal adalah situs Fotografer.net (FN). FN adalah forum fotografi online yang sudah berdiri sejak 30 Desember 2002. Setiap orang, dari berbagai kalangan dapat mendaftarkan diri menjadi anggota. Baik yang sebatas pehobi hingga yang professional. Hingga tulisan ini dibuat, jumlah anggotanya ialah 158506[i]. Tak ayal, jika FN didaulat sebagai forum fotografi terbesar se-Asia Tenggara.

FN menyediakan forum bagi para pegiat fotografi untuk saling berbagi. Forum diskusi, forum jual beli, dan pastinya galeri. Secara khusus, FN menyediakan galeri dimana para anggotanya bisa mengunggah karya fotografinya untuk kemudian dipamerkan dan diberi penilaian oleh anggota lainnya.

Sebagai forum yang besar tak ayal FN membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap fotografi di Indonesia. Sistem penilaian misalnya, menimbulkan tren di kalangan anggotanya untuk berlomba-lomba mendapatkan nilai tinggi. Administrator pun menyediakan kolom Foto Pilihan Editor. Tiap harinya ditampilkan enam foto yang terbaik pilihan editor. Walau pun sudah menjadi rahasia umum bahwa pemilihan Foto Pilihan Editor merupakan hasil perhitungan matematis yang  sudah terprogram, tetap saja hal ini menjadi sesuatu yang dikejar oleh para anggotanya.

Atas nama apresiasi

Situasi kompetisi ini sekilas memang ada baiknya, tiap orang termotivasi untuk terus meningkatkan kemampuan fotografinya. Namun celakanya justru motif perolehan atensi dan penilaian audiens ini yang lebih diutamakan. Tak jarang ada anggota yang memamerkan foto-foto yang sensasional dan atau dramatis agar mendapat banyak kunjungan. Foto-foto pada kategori manusia (human interest) misalnya, terlihat banyak sekali foto-foto yang menampilkan kemiskinan – entah itu pengemis, anak jalanan, pemulung, kehidupan di pemukiman kumuh – dan penderitaan, foto-foto bencana misalnya. Foto-foto itu memang membuat hati pemirsanya tersentuh. Foto milik Prasetyo Utomo ini adalah satu contohnya,  dan sialnya ini jadi foto pilihan editor.

Miris memang melihat situasi dalam foto itu. Sebuah kontradiksi antara keadaan si ibu dan anak dengan orang-orang yang berlalu lalang di Jalanan. Ibu dan anak itu adalah manusia-manusia yang terpinggirkan. Mereka berada di lingkungan yang serba ada, serba mampu, serba modern. Terlihat jelas bagaimana kesenjangan antara orang-orang berada dengan keadaan ibu dan anak. Mereka, si miskin hanya bisa terpaku meminta belas kasihan, tidak berdaya, sementara orang-orang lain begitu acuh, terus berjalan tanpa menghiraukan.

Tapi apakah mereka benar-benar menderita. Apa jangan-jangan ini adalah hasil dramatisasi sebuah kenyataan. Sebuah cara untuk meraih perhatian massa dengan tampilan foto yang humanis dan (pura-pura) mengerti penderitaan.

Foto dapat dikatakan sebagai sebuah representasi dari realitas. Oleh karena itu, adalah salah jika menganggap apa yang terlihat di foto adalah realitas yang ‘seutuhnya’. Fotografer sangat berperan dalam merepresentasikan realitas. Proses membingkai realitas – memilah potongan ruang dan waktu mana yang akan ditampilkan – lalu proses editing hingga pemberian judul dan caption menjadi unsur-unsur yang ikut menciptakan realitas baru dalam foto. Dalam foto ini, saya melihat bahwa si fotografer  lah yang membuat ibu dan anak itu menjadi menderita. Apalagi dengan judulnya itu. menunjukkan seolah-olah mereka tidak berdaya, tidak bisa mendapatkan uang. Dan hanya bisa terduduk tanpa daya usaha di pinggir trotoar. Kontras dengan mereka yang berlalu lalang di jalanan: aktif dan dinamis.

Jika dilihat dari tampilan fisik si Ibu. Saya menerka ia masih berusia muda. Belum ada kerut di wajahnya. Apalagi jika benar bayi yang ada di dekatnya ialah anaknya, maka ia belum terlalu tua. (Apakah seorang tua masih terpikir untuk memiliki anak? Sepertinya tidak). Jadi bisa diartikan bahwa si ibu itu sebenarnya masih mempunyai daya untuk bekerja yang layak. Bukan mengemis. Mengais rasa belas kasihan orang-orang yang berlalu lalang.

Lalu, bagaimana si fotografer bisa tahu kalau ibu itu sedang mencari uang di jalan seperti yang disebutkan dalam judul. Melihat keterangan pada foto, foto ini diambil dengan kecepatan rana 1/50 dan pada focal length 85mm. Saya tidak yakin dengan waktu sepersekian detik itu si fotografer bisa mengerti benar keadaan subjek dalam foto. Apalagi dengan focal length 85mm, berarti foto ini diambil dari jarak jauh. Tidak ada kedekatan dengan objek foto. Fotografer hanya ‘mencuri’ sepotong waktu lalu di’dandani’ kemudian.  Foto itu jadi terasa sangat dingin dan berjarak.

Kalau pun saya salah, dan ternyata si fotografer sudah melakukan pendekatan terhadap ibu dan anak itu – dengan mengobrol misalnya – tapi mengapa tidak diceritakan barang sedikit. Nama pun tidak ada. Di keterangan foto hanya ditulis keterangan teknis mengenai komposisi serta sapaan kepada para pengunjung foto tersebut.

Mengenai ibu dan anak dalam foto tersebut saya teringat berita-berita mengenai pengemis dan anak bayi. Para pengemis kerap menyewa anak kecil, biasanya balita, untuk diajak mengemis di jalan guna mendongkrak rasa belas kasihan orang-orang, sehingga lebih cepat dan mungkin lebih banyak memberikan uang[ii].

Saya melihat suatu komodifikasi bertingkat di sini. Si ibu dalam foto mengeksploitasi ketidakberdayaan bayi untuk menimbulkan rasa kasihan orang-orang yang lewat di depannya. Kemudian si fotografer menggunakan keadaan ibu dan anak itu untuk menimbulkan simpati para pengunjung forum, sehingga ia dipuji, diberi apresiasi dan bahkan foto ini menjadi foto pilihan editor. Sehingga foto ditampilkan di halaman depan selama sehari penuh. Pastinya hal ini menimbulkan kebanggaan bagi si fotografer. Menimbulkan rasa senang. Rasa senang akibat penderitaan orang.

Komodifikasi dapat diartikan sebagai suatu bentuk transformasi dari hubungan, yang awalnya terbebas dari hal-hal yang sifatnya diperdagangkan, menjadi hubungan yang sifatnya komersil[iii]. Dalam hal ini, kemiskinan menjadi sesuatu yang digunakan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Entah itu yang bersifat materi atau pun yang psikologis, misalnya penghargaan, pengakuan atau reputasi.

Di negara yang sedang berkembang ini, dimana jurang pemisah antar kelas sosial begitu jelas terlihat, kemiskinan sepertinya sudah tidak ayal lagi jika dijadikan komoditas bagi beberapa pihak. Acara-acara reality show di televisi yang menampilkan kemiskinan, misalnya, tiba-tiba banyak bermunculan dan sialnya mendapat perhatian banyak pemirsa. Kemiskinan dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menumbuhkan iba pemirsa sehingga rating meningkat. Si miskin dikerjai, diberi sejumlah uang lalu harus dihabiskan pada waktu tertentu. Si miskin dipaksa bertukar peran dengan keluarga kelas menengah ke atas, mencicipi kehidupan yang serba ada lengkap dengan gaya hidup yang serba modern. Kemiskinan menjadi objek kreasi media untuk dijadikan ladang uangnya.

Wisata ‘berburu’ derita

Tak lengkap rasanya jika berkumpul dengan sesama pegiat fotografi namun tidak pernah motret bareng. Untuk itu, acara-acara ‘hunting’ foto bersama pun kerap diselenggarakan oleh para anggota. Dari mulai motret model di studio atau di tempat-tempat khusus, motret keliling pemandangan hingga motret berkeliling kota. Sebagai salah satu anggota di forum ini sejak tahun 2007, tak jarang saya mengikuti acara tersebut, terutama sesi foto keliling kota.

Ternyata benar adanya, dari sekian banyak objek perkotaan, beberapa fotografer selalu tertarik untuk menghampiri pengemis atau anak jalanan untuk sekedar mengambil fotonya. Dari yang saya amati, mereka memang hanya menghabiskan waktu sebentar, secepat satu-dua frame diambil. Melihat kejadian ini saya jadi seperti sedang melihat orang yang tengah berwisata di kebun binatang, menghampiri binatang yang mereka suka lalu memotretnya, tanpa interaksi (karena tidak mungkin kita berinteraksi dengan binatang). Selain itu, istilah ‘hunting’ atau ‘berburu’ yang kerap digunakan lebih merujuk pada suatu pencarian, pengejaran, dan biasa dipakai jika binatang menjadi objeknya dan hutan menjadi tempatnya.

Pengemis atau pun pemulung sepertinya juga sudah terbiasa dengan tingkah para fotografer ini, bahkan di seputaran Kota Tua, Jakarta, ada sepasang suami-istri pemulung yang kerap menawarkan diri untuk difoto. Hal ini jelas menjadi berkah bagi para pehobi foto. Mereka tidak perlu repot-repot mencari, bahkan mereka bisa meminta kedua pemulung tersebut untuk berpose, sebagaimana memotret model di studio.

Tak hanya itu, bagi para pehobi foto, bencana ialah saat yang tepat untuk ‘berburu’ foto.  Saya pernah melihat kebakaran rumah tidak jauh dari tempat saya tinggal. Disana terlihat begitu banyak orang datang, berkerumunan, untuk menyaksikan kebakaran ini. Di antara orang-orang itu adalah beberapa anak muda, rata-rata gondrong, maju mendekat ke tempat api dan memotret. Ya, mereka memotret peristiwa kebakaran itu. Mereka memotret seperti sedang memotret sebuah festival. Begitu semangat.

Seorang kawan juga pernah mengajak saya pergi ke Jogja saat Gunung Merapi meletus. Selain untuk sekedar berjalan-jalan, alasan lain ia ingin ke sana adalah memotret situasi pasca bencana tersebut. Bencana adalah momen yang baik untuk memotret, mendapatkan foto yang humanis dan dramatis.

Foto bisa merubah keadaan?

Riset kecil-kecilan saya lakukan dengan mewawancarai beberapa fotografer yang memiliki foto bertema kemiskinan. Alasan mereka nyaris serupaa yaitu untuk memberi tahu publik, bahwa ada penderitaan di luar sana. Lebih jauh lagi mereka berharap bisa membangkitkan rasa kemanusiaan lalu mendorong orang untuk kemudian membantu penderitaan subjek yang di foto tersebut..

Susan Sontag dalam buku terakhirnya, Regarding the Pain of the Others memiliki kegelisahan yang sama. Ia menuliskan tentang foto-foto perang yang banyak tersebar di media massa. Awalnya, fotografi diharapkan bisa ikut menghentikan perang, dengan pendistribusian citra kekejaman perang kepada publik sehingga menyulut rasa kemanusiaan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, fotografi  (dalam media massa) justru menumpang hidup pada perang. “If it bleeds, it leads” begitulah ungkapan yang diberikan Sontag untuk fenomena ini[iv]. Fotografer berburu foto-foto peristwa berdarah yang tragis nan dramatis untuk bisa merebut perhatian massa. Untuk meningkatkan penjualan medianya.

Menghadapi penderitaan manusia memang membawa keadaan dilematis bagi fotografer, terutama pewarta foto. Di satu sisi, memotret peristiwa penuh derita itu diperlukan untuk kemudian diinformasikan kepada publik. Mengabarkan bahwa di luar sini ada kejadian. Kita tidak bisa diam begitu saja. Namun di lain sisi, memotret justru menunjukkan ketidak berdayaan fotografer untuk membantu secara langsung.

Kondisi seperti itu  pernah dirasakan oleh Kevin Carter, pewarta foto yang memenangkan penghargaan Pulitzer di tahun 1994 atas fotonya yang berlatar di Sudan pada 1993. Foto tersebut menampilkan seorang anak yang kering kerontang terpuruk di tanah, tidak jauh dari situ ada burung pemakan bangkai yang seolah sedang menunggu anak tersebut meninggal. Suatu keadaan yang mengharukan. Foto tersebut menuai banyak kritik. Mengapa Kevin tidak menolong anak itu,  mengusir burung lalu membantu anak itu ke camp penampungan PBB (diketahui bahwa sebenarnya si anak sedang berusaha untuk menuju ke camp tersebut). Kevin pun dihantui rasa bersalah. Dua bulan setelah menerima Pulitzer, ia bunuh diri dengan menggunakan karbon monoksida. “I’m really, really sorry. The pain of life overrides the joy to the point that joy does not exist.” Tulis Kevin dalam sebuah kertas yang ditemukan di kursi mobilnya. Sebuah penyesalan yang sangat mendalam[v].

Bayangkan, seorang pewarta foto kelas dunia saja merasa gelisah dan bersalah sedemikian rupa dengan apa yang dilakukan terhadap penderitaan manusia. Ia bersenang-senang di atas penderitaan si anak itu atas penghargaan Pulitzer yang diterimanya.  Padahal ia bisa dan sudah berhasil menyulut rasa kemanusiaan para pemirsa foto itu. Sementara kita, para fotografer yang masih berada pada tahap hobi, foto-foto kita hanya sampai di galeri online komunitas, bukan media massa. Begitu senangnya, kita menjadikan penderitaan sebagai objek kita dalam bermain-main atas nama seni, dengan alasan untuk belajar fotografi.

Perkembangan teknologi membuat distribusi foto menjadi sangat mudah dan cepat. Foto sanggup disebarkan secara real time ke seluruh penjuru dunia melalui media massa, internet misalnya. Sekali foto diunggah di dunia maya, maka foto  – beserta manusia-manusia yang menjadi subjek dalam foto tersebut -  dapat dilihat oleh massa. Penderitaan manusia-manusia tersebut pun dipertontonkan.

Melihat komentar-komentar yang diberikan pada foto-foto kategori human interest di FN ini  pun saya jadi ragu kalau foto seperti ini membangkitkan rasa  kemanusiaan. Bahkan tak jarang, yang justru mengomentari foto tersebut sebagai foto. Mengomentari perihal teknisnya. Seperti sebuah lukisan yang fiktif. Padahal foto menyimpan, merekam kenyataan yang sesungguhnya pernah terjadi.  Pada foto Prasetyo Utomo misalnya, hingga tulisan ini dibuat, foto tersebut memperoleh nilai 733 dan telah dilihat 894 kali. Jika dilihat dari komentar-komentar yang diberikan, kebanyakan hanya seadanya. “Mantab”,”Keren”,”nice picture”, “Sangat menyentuh, saya suka fotonya”. Tidak lebih dari 10 kata bahkan. Ya, foto penderitaan seperti ini dibilang bagus, keren, dan mantap. Sebuah kontradiksi.  Terlihat juga beberapa yang menyatakan diri benar-benar tersentuh melihat keadaan dalam foto tersebut. Namun hanya sedikit. Sisanya, jika dilihat dari panjang komentar yang diberikan, hanya menghabiskan beberapa detik untuk melihat foto ini. Alih-alih mengurangi penderitaan, dengan fotografi kita malah memunculkan penderitaan lain. Semakin sering kita melihat suatu hal semakin mudah kita terbiasa atau bahkan bosan dengan hal tersebut. Itulah hal yang saya takutkan, kita menjadi kebas, mati rasa terhadap penderitaan yang kerap dipertontonkan melalui fotografi. Menganggap ihwal penderitaan ialah hal yang sudah biasa dan nanti berlalu.

Dibutuhkan mata yang mendengarkan

Foto adalah sebuah pesan tanpa kode[vi]. Foto hanyalah sepotong kecil dari realita. Foto tak mungkin bisa memberikan informasi yang banyak mengenai suatu peristiwa. Foto tidak bisa menceritakan apa yang terjadi sebelum dan sesudah kejadian pada foto tersebut. Oleh karena itu,  citra fotografis sangat ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan dari orang yang memandanginya. Pengetahuan dan pengalaman serta daya serap itu lah yang memungkinkan orang menggali lapisan makna yang tersimpan dalam tiap objek dan subjek yang ditampilkan pada foto. Melihat komentar-komentar yang diberikan pada foto-foto penderitaan tersebut. Dapat disimpulkann bahwa kebanyakan dari kita, manusia, tidak memiliki literasi visual yang cukup. Kita hanya tertarik untuk mencerna citra umum foto, tanpa mencoba menguak hubungan-hubungan antar objek dengan konteks sosial.

Dalam kajian modernitas kapitalistis-konsumeristis, seperti yang dituliskan oleh F. Budi Hardiman, penderitaan menjadi sebuah objek yang disajikan, menjadi sebuah komoditas yang dapat dikonsumsi, dijual dan dinikmati massa. Para konsumen pun melihat foto-foto tersebut dalam literasi visual yang seadanya. Hanya sekedar melihat tidak menjadi merasa ingin ‘dekat’ dengan penderitaan. “Melihat, bukan untuk memahami yang dilihat, melainkan hanya untuk melihat” begitulah ungkap Heidegger yang dikutip oleh Hardiman[vii].

Hardiman pun menambahkan pentingnya “mata yang mendengarkan” untuk bisa memahami penderitaan orang lain tersebut. Penglihatan yang digerakkan oleh hati. Dengan begitu kita tidak akan menikmatinya, tidak mengintipnya, dan tidak sekedar melihat untuk melihat, melainkan membiarkan subjek dalam foto tersebut berbicara.

Oleh karena itu, internalisasi dengan keadaan sekitar serta pada subjek yang menderita menjadi hal yang sangat penting.  Melalukan riset atau pendekatan terlebih dahulu terhadap subjek yang akan difoto akan menjadi lebih baik. Sejatinya, karya seni rupa yang dibuat untuk merespon suatu fenomenan akan terasa hambar jika tidak didahului sebuah pengamatan mendalam, keterlibatan, dan internalisasi.   Dengan melakukan pengamatan kita bisa lebih tahu hal-hal apa yang perlu diekpos dan hal yang tidak perlu, sehingga kita dapat memanusiakan manusia, bukan sekedar menjadikannya sebagai unsur simbolis pelengkap estetika.
Beberapa bulan lalu, saya menghadiri seminar fotografi yang diisi oleh salah satu pegiat serta pemikir fotografi, Yudhi Soerjoatmodjo, ia mengatakan bahwa foto itu adalah medium dua dimensi. ‘Kehadiran’ atau keterlibatan sang fotografer dalam foto lah yang  menjadi dimensi ketiga yang membuat foto menjadi hidup. Hal ini tidak akan kita dapatkan jika hanya menghabiskan waktu secepat rana menangkap cahaya.

Ketika kita tidak yakin untuk bisa benar-benar merasakan penderitaan, lebih baik simpan kembali kamera kita.

________________________________________
[i] http://www.fotografer.net/isi/anggota/ , diakses  pada 8 Juli 2011.
[ii] Soebijoto, Hertanto. Dari Baju Dinas Sampai Sewa Balita. Kompas.com, Senin, 6 September 2010.  http://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/06/09393154/Dari.Baju.Dinas.sampai.Sewa.Bayi. diakses pada 8 Juli 2011
[iii] http://www.marxists.org/glossary/terms/c/o.htm. Diakses pada 8 Juli 2010
[iv] Sontag, Susan. 2003. Regarding The Pain of The Others. United State: Farrar, Straus and Giroux.
[v] Macleod, Scott. Johhannesburg. The Life and Death of Kevin Carter . http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,981431,00.html#ixzz1RS2iSgQ1. Diakses pada 9 Juli 2011
[vi] Barthes, Roland.2010.  Imaji, musik, teks. Yogyakarta: Jalasutra

[vii] Hardiman, Budi. F. 2007. Nafsu Mata Atas Derita.  Jurnal Kalam, 23


---
Tulisan ini dibuat sebagai tugas akhir Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual yang diadakan oleh Ruangrupa di tahun 2011. Pertama kali dimuat di situs Jarakpandang.net . Di-pubslish di blog ini atas nama pengarsipan




16 Maret 2011

#Artikel - Desain sebagai Motor Gerakan Sosial


(ditulis untuk Nirmana Award, dimuat di Market Plus Magz)

Penggunaan desain dalam komunikasi  ditandai dengan munculnya mesin cetak Guttenberg pada pertengahan abad 15. Setelah itu,  revolusi industri pun membuat perkembangan teknik cetak dan duplikasi semakin genjar. Alhasil, media komunikasi non-verbal seperti poster dan selebaran  digandrungi. Dari situlah kebutuhan akan desain grafis pun kian dirasakan guna menciptakan bentuk komunikasi visual yang efektif dan tepat sasaran. 

Hingga pada awal abad 19 Perang Dunia pecah menjadi muara konflik kepentingan masyarakat dari revolusi industri. Di situasi Perang Dunia ini lah desain grafis mulai banyak digunakan untuk oleh para penguasa untuk menyebarkan doktrin-doktrin kepada masyarakatnya. Ya, selain senapan dan dinamit, desain pun menjadi senjata. Peluru yang dilontarkannya berupa poster-poster propaganda yang menyerang serta memanipulasi ruang pikiran rakyat luas.  

Salah satu poster propaganda yang terkenal di era itu adalah poster karya James Montgomery Flagg. Poster tersebut bergambar diri James tengah menunjuk ke arah depan. Ia  memakai pakaian khas Presiden Abraham Lincoln serta memakai topi bercorak bendera Amerika Serikat. Headline pada poster itu adalah “I Want You For U.S Army”. Isi poster itu adalah seruan kepada pemuda-pemuda Amerika Serikat untuk bergabung di pasukan militer. Dari poster itu pun akhirnya banyak pemuda yang mendaftarkan diri untuk gabung di militer. 

05 Mei 2008

Iklan Layanan Masyarakat: Pemuda dan Karier


karya untuk Pinasthika Award 2008 
bertindak sebagai copywriter dan art direcrtor

05 Mei 2007

Iklan Layanan Masyarakat: Anak dan Televisi. Bibit Emas Festival.


Juara 3 Kategori Print Ad. Tema: Anak dan Media Massa
Bibis Emas Festival  - 2007
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik - Universitas Indonesia 

bertindak sebaga copywriter dan art director
© blogrr
Maira Gall